04 September 2008

Andrea : Guru Muhammadiyah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Sesungguhnya !

Bismillahirrahmaanirrahiim

Yogyakarta- “ Guru Guru Muhammadiyah adalah Pahlawan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Sesungguhnya !” demikian pernyataan Andrea Hirata dalam sambutan setelah bersama Ibu Muslimah menerima Penghargaan Aisyiyah 2007. “Karena guru guru Muhammadiyah adalah manusia manusia paling pemberani di negeri ini !” lanjut penulis Novel Best Seller Nasional Laskar Pelangi.

Dalam acara silaturahim Aisyiyah Ahad (11/11/2007) di Univ. Muhammadiyah Yogyakarta tersebut Andrea mengungkapkan bahwa dia bangga menjadi warga Muhammadiyah. ” Walaupun saya tidak memiliki kartu Muhammadiyah, Muhammadiyah sudah ada dalam hati saya sejak ibu Muslimah mengenalkan saya dengan Integritas” ungkapnya.

Lebih lanjut Alumni Universitas Sorbonne, Perancis tersebut mengungkapkan bahwa Aisyiyah dan Muhammadiyah perlu mendefinisikan kembali kredo pendidikan Muhammadiyah yang didasarkan kepada Integritas . “Seperti yang telah ditanamkan oleh Ibu Muslimah “ tegasnya. Karena menurutnya inilah kekuatan Muhammadiyah. “Dengan 168 Perguruan tinggi, ribuan sekolah SD, SMP dan SMA di seluruh Indonesia saya yakin Muhammadiyah bisa berbuat jauh lebih banyak “. “Bila Ibu Muslimah yg guru Desa dan saya yang anak desa disebut sebut bisa menginspirasi dunia pendidikan, bagaimana dengan pelaku 168 perguruan tinggi tersebut !” tegasnya disambut tepuk tangan seribuan hadirin yang datang.

Ibu Muslimah
Sebelum Andrea mengucapkan sambutannya, Ibu Muslimah berkesempatan berpidato dalam acara tersebut. Ibu guru sederhana tersebut dengan tenang mengucapkan terimakasihnya atas penghargaan yang diterima dan juga tidak lupa menyebut bahwa penghargaan ini juga untuk orang tua Andrea Hirata dan guru guru Andrea Hirata yang lain. “Saya mohon do’a restunya, kami berdua dapat menjaga nama baik kami dan dapat terus meningkatkatm dan berjuang meningkatkan prestasi pendidikan anak anak dalam berjuang membangun berbangsa dan bernegara” ucapnya.

Dalam akhir pidatonya, Ibu Muslimah yang saat itu ke Yogyakarta diantar kakak dan adiknya tak lupa mengucapkan harapan sederhananya dalam aktifitasnya di Aisyiyah Kecamatan Gantung, Belitong. “ Kami juga mohon do’a restu untuk mencari Donatur untuk memperbaiki TK Aisyiyah di Kecamatan gantung “ ungkapnya

01 September 2008

Orang Bangkrut Dalam Islam ....

Bismillahirrahmaanirrahiim

Seorang pedagang jika ia bangkrut maka harus membayar semua hutang-hutangnya dengan menjual aset-asetnya. Jika asetnya tidak mencukupi maka ia harus menjual harta bendanya yang lain berupa rumah, tanah, mobil dan lain-lain. Jika belum cukup juga maka ia minta pengampunan kepada pemiliknya, atau paling jelek ia diadukan ke polisi dan masuk penjara. Di akhirat juga ada orang-orang yang bangkrut, ini lebih berbahaya karena jika ia tidak mampu membayar hutang-hutangnya maka tidak sekedar masuk penjara hukumannya tetapi masuk neraka!

Seseorang bisa bangkrut karena mulut/lisannya, yakni mereka yang sibuk mencari-cari kelemahan orang dan kemudian menceritakannya kembali kepada orang lain. Jika yang diceritakan berita bohong maka termasuk ”Fitnah”, tetapi jika yang disampaikan benar maka termasuk ”Ghibah” (gunjing). Fitnah dan ghibah diharamkan dalam Islam.

Batasan Ghibah adalah menceritakan aib seseorang yang tidak patut diceritakan (Ar-Raghibi), atau orang yang di ghibah benci jika mendengarnya (Al-Ghazali, Imam Nawawi dan Ibnu At-Tin), atau menceritakan kejelekan seseorang ketika ia tidak ada sekalipun yang diceritakan benar adanya (Ibnu Atsir). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Ghibah adalah menceritakan kejelekan (aib) seseorang, jika ia tahu aibnya terungkap membuatnya benci (marah), meskipun aib itu benar adanya. ’Tahukah kamu apakah yang di sebut dengan ghibah?’ Para sahabat menjawab: ’Allah & Rasul-Nya yang lebih tahu’

Beliau bersabda: ’Yaitu kamu menceritakan saudaramu mengenai sesuatu yang ia tidak senang jika hal itu diceritakan’

Rasulullah di tanya: ’Bagaimanakah pendapat Baginda jika aku menceritakan suatu kenyataan yang sebenarnya yang ada pada saudaraku? Beliau menjawab: ’Jika sesuatu yang kamu ceritakan itu sesuai dengan kenyataannya, berarti telah mengghibahnya. Sedangkan jika yang kamu ceritakan itu tidak sesuai dengan kenyataannya, berarti kamu melakukan kebohongan (fitnah) tentangnya’ (HR Muslim).

Mulut salah satu bagian tubuh yang banyak menghasilkan pahala jika digunakan untuk da’wah atau memberikan nasehat kepada orang lain. Tetapi mulut juga bisa menghasilkan banyak dosa jika digunakan untuk ghibah, mencaci maki, berbohong, mengadu domba (namimah), mengumpat dan perkataan buruk lainnya. Ghibah memang nikmat karena memang tabi’at manusia punya rasa ingin tahu yang besar, dia akan selalu mencari tahu rahasia seseorang sehingga wajar saja hampir semua TV menyiarkan acara Infotainment yang menyebarkan berbagai rahasia selebritis. Di akhirat nanti, orang-orang yang telah di ghibah akan menuntut keadilan atasnya, karena pintu maaf telah tertutup maka kebaikannya (pahala) akan di ambil oleh orang yang telah di ghibah, jika kebaikannya (pahala) telah habis maka dosa orang yang telah di ghibah yang akan ditimpakan pada dirinya.

Tahukah engkau siapakah orang-orang bangkrut itu?, mereka adalah umatku yang datang pada hari kiamat dengan shalat, puasa dan zakatnya, tetapi mereka telah mencaci maki, menuduh seseorang tanpa bukti, sehingga semua perbuatannya itu telah menghilangkan perbuatannya. Kemudian ia ditenggelamkan keneraka jahanam (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Ghibah & fitnah adalah perbuatan dzalim karena telah membuka aib orang lain, pelaku ghibah taubatnya terhalang selama belum minta ma’af kepada orang yang telah dighibahnya. Jika orang tersebut telah meninggal atau sulit ditemui maka sebagian ulama menyatakan dapat di tebus dengan mendo’akan orang yang telah dighibahnya.

Wallahua’lam

Jambore Daerah I Hizbul Wathan

Puji dan syukur hanya milik Allah yang Maha Kuasa dan Maha Menguasai seluruh alam semesta dan seisinya. Hanya atas ijin dan perkenanNYA saya dapat mengemban amanah sebagai Ketua Panitia Penyelenggara Jambore Daerah I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kwartir Daerah Kabupaten Kendal

Kegiatan ini dapat sukses terselenggara pada Kamis – Ahad, 28 – 31 Agustus 2008 sesaat setelah saya menunaikan kewajiban lain yakni Sekretaris Panitia Pelaksana Pencalonan dan Pemilihan Kepala Desa Gebanganom yang menggelar hajat Pilkades pada kamis, 21 Agustus 2008 yang kemudian dilanjutkan dengan kewajiban sebagai trainer untuk Pelatihan Pemanfaatan TIK di Cilacap, 25 – 27 Agustus 2008. Sungguh Maha Agung Allah yang telah menjadikan semuanya mudah.

Jambore Daerah I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kwartir Daerah Kabupaten Kendal Tingkat Pengenal dan Penghela ini merupakan sarana unjuk kekuatan “show a force” bangkitnya kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) di Kabupaten Kendal setelah di”tidurkan” oleh pemerintah melalui Keppres No. 238 Tahun 1961. Alasan sederhana mengapa Muhammadiyah perlu membangkitkan kembali Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan ini adalah :

  • 1. Muhammadiyah merasa kekurangan supply kader militant. Hizbul Wathan adalah pencetak kader bangsa yang tangguh, terbukti dengan lahirnya Panglima Besar Jenderal Besar Soedirman yang besar dari didikan Hizbul Wathan.
  • 2. Muhammadiyah merasa perlu memberikan pembinaan dan pendidikan kepanduan khusus kepada kader-kadernya yang berada di bangku sekolah Muhammadiyah. Gerakan Pramuka dianggap oleh Muhammadiyah terlalu besar dan perlu dibantu. Sehingga cukup di sekolah Muhammadiyah para siswa mendapat pendidikan kepanduan melalui Hizbul Wathan. Dan Gerakan Pramuka masih memiliki bidang garap yang sangat luas.

Dalam kapasitas sebagai Ketua Panitia dan Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Kabupaten Kendal, saya menganggap kegiatan ini cukup sukses, meskipun di sana sini ada kekurangan yang dapat dibenahi di waktu yang akan dating. Dukungan dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah, khususnya Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah sangat diperlukan untuk dapat terus menumbuhkembangkan Gerakan Kepanduan HW ini di semua sekolah Muhammadiyah.

Selanjutnya, secara pribadi saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tak terhingga kepada jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kendal beserta majelis dan ortomnya, Rumah Sakit Islam Weleri, rekan-rekan Kokam, Komandan Distrik Militer Kendal, Camat Weleri, Kapolsek Weleri, Danramil Weleri, warga masyarakat Desa Penyangkringan, Weleri dan semua pihak yang tak mungkin disebutkan semuanya. Terima kasih, semoga segala kebaikannya mendapat balasan yang lebih baik dari Allah SWT.











31 Agustus 2008

“MENYAMBUT BULAN RAMADHAN 1428 H”

Marhaban ya Ramadhan. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan 1428 H. Maka, sudah semestinya, sebagai seorang Muslim ––sebagaimana dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad Saw–– kita menyambutnya dengan suka cita dengan keimanan penuh. Kita tidak akan melaksanakan sesuatu dengan baik, kecuali jika kita mempersiapkan diri dengan baik pula. Begitupun dalam menyambut bulan Ramadhan. Rasulullah dan para shahabat sangat bersemangat tiap kali menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mereka dengan sangat serius mempersiapkan diri agar bisa memasuki bulan Ramadhan dan melakukan segala amalan di dalamnya dengan penuh keimanan, keikhlasan, semangat dan kesungguhan. Maka, jelas sekali keberhasilan kita dalam menjalani seluruh amal shaleh pada bulan Ramadhan dan akhirnya dapat meraih seluruh kebaikan bulan Ramadhan, sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kita mempersiapkan diri.
Persiapan paling penting yang harus kita lakukan adalah persiapan mental dan ilmu. Mempersiapkan mental artinya menyiapkan jiwa kita dengan cara membangkitkan suasana keimanan dan spirit, atau semangat ketakwaan pada diri kita. Cara yang paling manjur adalah dengan memperbanyak ibadah, khususnya puasa sunnah sebagaimanya dicontohnya oleh Rasulullah, dengan memperbanyak puasa Sya’ban, bahkan menyambungnya hingga bulan Ramadhan. Ummul Mukminin, Aisyah ra. menuturkan:

«مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ  اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ»

Aku tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh, kecuali Ramadhan dan aku tidak melihat Beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan dengan pada bulan Sya’ban (HR al-Bukhari dan Muslim).

«كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللهِ  أَنْ يَصُوْمَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ»

Bulan yang paling Rasul saw. sukai untuk berpuasa di dalamnya adalah Sya’ban, kemudian Beliau menyambungnya dengan (puasa) Ramadhan. (HR Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad).

Rasulullah memposisikan puasa Sya’ban itu sebagai persiapan untuk menjalani Ramadhan. Anas ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya:

«أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ فَقَالَ شَعْبَانُ لِتَعْظِيمِ رَمَضَانَ»

Puasa manakah yang paling utama setelah puasa Ramadhan? Rasul pun menjawab, “Puasa Sya’ban untuk mengagungkan Ramadhan.” (HR at-Tirmidzi).

Maka, berpuasa sunnah di bulan Sya’ban memiliki keutamaan yang sangat besar, lebih besar daripada puasa pada bulan lainnya. Sedemikian penting dan utamanya sampai ‘Imran bin Hushain menuturkan, bahwa Rasul saw. pernah bertanya kepada seorang Sahabat:

«هَلْ صُمْتَ مِنْ سُرَرِ هَذَا الشَّهْرِ شَيْئًا يَعْنِيْ شَعْبَانَ قَالَ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ  فَإِذَا أَفْطَرْتَ مِنْ رَمَضَانَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ مَكَانَهُ»

Apakah engkau berpuasa pada akhir bulan ini (yakni Sya’ban)?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Lalu Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Jika engkau telah selesai menunaikan puasa Ramadhan, maka berpuasalah dua hari sebagai gantinya.” (HR Muslim).

Apa hikmah dari puasa Sya’ban itu? Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:

«يَا رَسُول اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنْ شَهْر مِنْ الشُّهُور مَا تَصُوم مِنْ شَعْبَان، قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفَلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَان، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»

“Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban.” Rasul menjawab, “Bulan itu (Sya’ban) adalah bulan yang dilupakan oleh manusia, yaitu bulan di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Tuhan semesta alam. Aku suka amal-amalku diangkat, sementara aku sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i; disahihkan oleh Ibn Khuzaimah).

Pendek kata, puasa sunnah di bulan Sya’ban, di samping akan mendapatkan pahala yang besar dan keutamaan di sisi Allah, juga merupakan sarana latihan guna menyongsong datangnya Ramadhan. Al-Hafizh Ibn Rajab mengatakan, “Dikatakan tentang puasa pada bulan Sya’ban, bahwa puasa seseorang pada bulan itu merupakan latihan untuk menjalani puasa Ramadhan. Hal itu agar ia bisa memasuki puasa Ramadhan tidak dengan berat dan beban. Sebaliknya, dengan puasa Sya’ban, ia telah terlatih dan terbiasa melakukan puasa. Dengan puasa Sya’ban sebelumnya, ia telah menemukan lezat dan nikmatnya berpuasa. Dengan begitu, ia akan memasuki puasa Ramadhan dengan kuat, giat dan semangat.”

Para ulama di masa lalu sangat memperhatikan pelaksanaan semua amal kebaikan pada bulan Sya’ban. Mereka, sejak memasuki bulan Sya’ban, telah memperbanyak membaca al-Quran, menelaah dan memahami isinya dan men-tadabbur-i kandungannya. Bahkan Habib ibn Abi Tsabit, Salamah bin Kahil dan yang lain menyebut bulan Sya’ban ini sebagai Syahr al-Qurân.

Mari Sambut Ramadhan

Sebentar lagi bulan Ramadhan akan tiba. Mari kita gunakan waktu yang bersisa di bulan Sya’ban ini untuk betul-betul menyiapkan diri memasuki bulan Ramadhan. Ajaklah diri, keluarga dan orang-orang yang ada di sekitar kita guna menyongsong datangnya bulan Ramadhan. Perbanyak puasa sunnah, baca al Qur’an dan telaah kandungannya, perbanyak sedekah dan amal shaleh lainnya, termasuk bergiat melakukan shalat tahajjud. Agar kita nanti mampu menjalani Ramadhan dengan penuh makna, maka hendaknya kita pun sejak sekarang menyiapkan diri melakukan amal kebaikan yang akan kita lakukan selama bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan. Bulan Ramadhan adalah bulan murâqabah. Ramadhan juga adalah bulan pengorbanan di jalan Allah. Di dalamnya setiap muslim dituntut untuk berkorban dengan menahan rasa lapar dan dahaga demi meraih derajat taqwa. Taqwa adalah puncak hikmah dari ibadah shaum pada bulan Ramadhan. Perwujudan taqwa secara individu tidak lain adalah dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun perwujudan taqwa secara kolektif adalah dengan menerapkan syariah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Puasa Ramadhan tentu kurang bermakna, jika tidak ditindaklanjuti oleh pelaksanaan syariah secara kaffah dalam kehidupan, karena justru itulah sesungguhnya wujud ketaqwaan yang hakiki.

Terakhir, marilah kita simak dan renungkan kembali penggal pesan-pesan Rasulullah yang disampaikan di penghujung bulan Sya’ban, sesaat sebelum memasuki bulan Ramadhan:

Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah telah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya sebagai sunnah. Siapa saja yang ber-taqarrub di dalamnya dengan sebuah kebajikan, ia seperti melaksanakan kewajiban pada bulan yang lain. Siapa saja yang melaksanakan satu kewajiban di dalamnya, ia seperti melaksanakan 70 kewajiban pada bulan lainnya.

Bulan Ramadhan adalah bulan sabar; sabar pahalanya adalah surga. Ia juga bulan pelipur lara dan ditambahnya rezeki seorang mukmin. Siapa saja yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, ia akan diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan lehernya dari api neraka. Ia akan mendapatkan pahala orang itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

Para Sahabat berkata, “Kami tidak memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa puasa?” Rasulullah saw. menjawab:

Allah akan memberikan pahala kepada orang yang memberi makan untuk orang yang berbuka berpuasa meski dia hanya memberi sebutir kurma, seteguk air minum atau setelapak susu.

Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya adalah maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang meringankan hamba sahayanya, Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah pada dalam Ramadhan empat perkara, dua perkara yang Tuhan ridhai dan dua perkara yang kalian butuhkan. Dua perkara yang Tuhan ridhai adalah kesaksian Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh dan permohonan ampunan kalian kepada-Nya. Adapun dua perkara yang kalian butuhkan adalah: kalian meminta kepada Allah surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. (HR Ibn Khuzaimah dalam Shahih Ibn Khuzaimah dan al-Baihaqi di dalam Syu’âb al-Imân)

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan 1429

dari lubuk hati yang terdalam
dihatur dan ditutur mohon maaf atas segenap khilaf
khilaf kata, laku dan fikir saya
semoga kita semua kembali fitrah
sebagai muttaqien
yang kamil
amien..

::selamat menunaikan ibadah shiyam
di bulan suci ramadhan 1429 h