31 Agustus 2008

“MENYAMBUT BULAN RAMADHAN 1428 H”

Marhaban ya Ramadhan. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan 1428 H. Maka, sudah semestinya, sebagai seorang Muslim ––sebagaimana dituntunkan oleh Rasulullah Muhammad Saw–– kita menyambutnya dengan suka cita dengan keimanan penuh. Kita tidak akan melaksanakan sesuatu dengan baik, kecuali jika kita mempersiapkan diri dengan baik pula. Begitupun dalam menyambut bulan Ramadhan. Rasulullah dan para shahabat sangat bersemangat tiap kali menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mereka dengan sangat serius mempersiapkan diri agar bisa memasuki bulan Ramadhan dan melakukan segala amalan di dalamnya dengan penuh keimanan, keikhlasan, semangat dan kesungguhan. Maka, jelas sekali keberhasilan kita dalam menjalani seluruh amal shaleh pada bulan Ramadhan dan akhirnya dapat meraih seluruh kebaikan bulan Ramadhan, sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kita mempersiapkan diri.
Persiapan paling penting yang harus kita lakukan adalah persiapan mental dan ilmu. Mempersiapkan mental artinya menyiapkan jiwa kita dengan cara membangkitkan suasana keimanan dan spirit, atau semangat ketakwaan pada diri kita. Cara yang paling manjur adalah dengan memperbanyak ibadah, khususnya puasa sunnah sebagaimanya dicontohnya oleh Rasulullah, dengan memperbanyak puasa Sya’ban, bahkan menyambungnya hingga bulan Ramadhan. Ummul Mukminin, Aisyah ra. menuturkan:

«مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ  اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ»

Aku tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh, kecuali Ramadhan dan aku tidak melihat Beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan dengan pada bulan Sya’ban (HR al-Bukhari dan Muslim).

«كَانَ أَحَبَّ الشُّهُورِ إِلَى رَسُولِ اللهِ  أَنْ يَصُوْمَهُ شَعْبَانُ ثُمَّ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ»

Bulan yang paling Rasul saw. sukai untuk berpuasa di dalamnya adalah Sya’ban, kemudian Beliau menyambungnya dengan (puasa) Ramadhan. (HR Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad).

Rasulullah memposisikan puasa Sya’ban itu sebagai persiapan untuk menjalani Ramadhan. Anas ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah ditanya:

«أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ فَقَالَ شَعْبَانُ لِتَعْظِيمِ رَمَضَانَ»

Puasa manakah yang paling utama setelah puasa Ramadhan? Rasul pun menjawab, “Puasa Sya’ban untuk mengagungkan Ramadhan.” (HR at-Tirmidzi).

Maka, berpuasa sunnah di bulan Sya’ban memiliki keutamaan yang sangat besar, lebih besar daripada puasa pada bulan lainnya. Sedemikian penting dan utamanya sampai ‘Imran bin Hushain menuturkan, bahwa Rasul saw. pernah bertanya kepada seorang Sahabat:

«هَلْ صُمْتَ مِنْ سُرَرِ هَذَا الشَّهْرِ شَيْئًا يَعْنِيْ شَعْبَانَ قَالَ لاَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ  فَإِذَا أَفْطَرْتَ مِنْ رَمَضَانَ فَصُمْ يَوْمَيْنِ مَكَانَهُ»

Apakah engkau berpuasa pada akhir bulan ini (yakni Sya’ban)?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak.” Lalu Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Jika engkau telah selesai menunaikan puasa Ramadhan, maka berpuasalah dua hari sebagai gantinya.” (HR Muslim).

Apa hikmah dari puasa Sya’ban itu? Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw.:

«يَا رَسُول اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنْ شَهْر مِنْ الشُّهُور مَا تَصُوم مِنْ شَعْبَان، قَالَ : ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفَلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَان، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبّ الْعَالَمِينَ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»

“Ya Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa pada bulan Sya’ban.” Rasul menjawab, “Bulan itu (Sya’ban) adalah bulan yang dilupakan oleh manusia, yaitu bulan di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal manusia kepada Tuhan semesta alam. Aku suka amal-amalku diangkat, sementara aku sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i; disahihkan oleh Ibn Khuzaimah).

Pendek kata, puasa sunnah di bulan Sya’ban, di samping akan mendapatkan pahala yang besar dan keutamaan di sisi Allah, juga merupakan sarana latihan guna menyongsong datangnya Ramadhan. Al-Hafizh Ibn Rajab mengatakan, “Dikatakan tentang puasa pada bulan Sya’ban, bahwa puasa seseorang pada bulan itu merupakan latihan untuk menjalani puasa Ramadhan. Hal itu agar ia bisa memasuki puasa Ramadhan tidak dengan berat dan beban. Sebaliknya, dengan puasa Sya’ban, ia telah terlatih dan terbiasa melakukan puasa. Dengan puasa Sya’ban sebelumnya, ia telah menemukan lezat dan nikmatnya berpuasa. Dengan begitu, ia akan memasuki puasa Ramadhan dengan kuat, giat dan semangat.”

Para ulama di masa lalu sangat memperhatikan pelaksanaan semua amal kebaikan pada bulan Sya’ban. Mereka, sejak memasuki bulan Sya’ban, telah memperbanyak membaca al-Quran, menelaah dan memahami isinya dan men-tadabbur-i kandungannya. Bahkan Habib ibn Abi Tsabit, Salamah bin Kahil dan yang lain menyebut bulan Sya’ban ini sebagai Syahr al-Qurân.

Mari Sambut Ramadhan

Sebentar lagi bulan Ramadhan akan tiba. Mari kita gunakan waktu yang bersisa di bulan Sya’ban ini untuk betul-betul menyiapkan diri memasuki bulan Ramadhan. Ajaklah diri, keluarga dan orang-orang yang ada di sekitar kita guna menyongsong datangnya bulan Ramadhan. Perbanyak puasa sunnah, baca al Qur’an dan telaah kandungannya, perbanyak sedekah dan amal shaleh lainnya, termasuk bergiat melakukan shalat tahajjud. Agar kita nanti mampu menjalani Ramadhan dengan penuh makna, maka hendaknya kita pun sejak sekarang menyiapkan diri melakukan amal kebaikan yang akan kita lakukan selama bulan Ramadhan.

Bulan Ramadhan adalah bulan ketaatan. Bulan Ramadhan adalah bulan murâqabah. Ramadhan juga adalah bulan pengorbanan di jalan Allah. Di dalamnya setiap muslim dituntut untuk berkorban dengan menahan rasa lapar dan dahaga demi meraih derajat taqwa. Taqwa adalah puncak hikmah dari ibadah shaum pada bulan Ramadhan. Perwujudan taqwa secara individu tidak lain adalah dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Adapun perwujudan taqwa secara kolektif adalah dengan menerapkan syariah secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Puasa Ramadhan tentu kurang bermakna, jika tidak ditindaklanjuti oleh pelaksanaan syariah secara kaffah dalam kehidupan, karena justru itulah sesungguhnya wujud ketaqwaan yang hakiki.

Terakhir, marilah kita simak dan renungkan kembali penggal pesan-pesan Rasulullah yang disampaikan di penghujung bulan Sya’ban, sesaat sebelum memasuki bulan Ramadhan:

Wahai manusia, kalian telah dinaungi bulan yang agung, bulan penuh berkah, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah telah menjadikan puasa pada bulan itu sebagai suatu kewajiban dan shalat malamnya sebagai sunnah. Siapa saja yang ber-taqarrub di dalamnya dengan sebuah kebajikan, ia seperti melaksanakan kewajiban pada bulan yang lain. Siapa saja yang melaksanakan satu kewajiban di dalamnya, ia seperti melaksanakan 70 kewajiban pada bulan lainnya.

Bulan Ramadhan adalah bulan sabar; sabar pahalanya adalah surga. Ia juga bulan pelipur lara dan ditambahnya rezeki seorang mukmin. Siapa saja yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, ia akan diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan lehernya dari api neraka. Ia akan mendapatkan pahala orang itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

Para Sahabat berkata, “Kami tidak memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa puasa?” Rasulullah saw. menjawab:

Allah akan memberikan pahala kepada orang yang memberi makan untuk orang yang berbuka berpuasa meski dia hanya memberi sebutir kurma, seteguk air minum atau setelapak susu.

Ramadhan adalah bulan yang awalnya adalah rahmah, pertengahannya adalah maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Siapa saja yang meringankan hamba sahayanya, Allah akan mengampuninya dan membebaskannya dari api neraka. Perbanyaklah pada dalam Ramadhan empat perkara, dua perkara yang Tuhan ridhai dan dua perkara yang kalian butuhkan. Dua perkara yang Tuhan ridhai adalah kesaksian Lâ ilâha illâ Allâh Muhammad Rasûlullâh dan permohonan ampunan kalian kepada-Nya. Adapun dua perkara yang kalian butuhkan adalah: kalian meminta kepada Allah surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka. (HR Ibn Khuzaimah dalam Shahih Ibn Khuzaimah dan al-Baihaqi di dalam Syu’âb al-Imân)

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan 1429

dari lubuk hati yang terdalam
dihatur dan ditutur mohon maaf atas segenap khilaf
khilaf kata, laku dan fikir saya
semoga kita semua kembali fitrah
sebagai muttaqien
yang kamil
amien..

::selamat menunaikan ibadah shiyam
di bulan suci ramadhan 1429 h

16 Januari 2008

A must read book : LASKAR PELANGI

Bismillahirrahmaanirrahiim

Buku ini bercerita tentang kisah sekelompok anak-anak yang terdiri atas 10 orang dan menamai diri mereka dengan laskar pelangi, tinggal di Belitung sana, dengan segala kesulitan kehidupan yang tidak sedikitpun mengurangi mimpi mereka untuk melepaskan diri dari penyakit kronis bernama kemiskinan, dan keinginan besar itu di representasikan dengan keinginan yang luar biasa mewah dimata mereka. Dan kemewahan tersebut bernama pendidikan.

Buku ini ku tamatkan sama dengan aku menamatkan novel John Grisham. Hanya saja, ada chemichal yang berbeda. Jika membaca John Grisham, seperti novel-novelnya yang sebelumnya aku tak bisa menghentikan karena cerita yang mengalir dan mengutik rasa keingintahuan yang sangat kuat, buku laskar pelangi tidak seperti itu. Buku ini membuatku menangis, tertawa, terpukul, tersentuh, terkenang, tercenung, terinspirasi, membangkitkan semangat, memperkuat akar mimpi yang telah ku tanam, membakar semangat nasionalisme dan keinginan untuk ikut menjadi bagian dari komponen bangsa ini yang ikut membangun.

Andrea Hirata, sang penulis buku ini benar-benar mampu menyampaikan pesan nya dengan baik. Ceritanya mengalir. Tak terkesan dia memberikan pesan-pesan moral yang luar biasa, tapi membacanya sudah cukup untuk membuatku terhentak berkali kali.

Kecintaannya atas masa kecil dan tanah kelahirannya benar-benar ter-representasikan dalam metafora-metafora yang hiperbol tapi tidak mengganggu sedikitpun, dan justru menimbulkan keingintahuan pembaca tentang Belitung.

Cara-caranya mendeskripsikan paradox dan drama kehidupan di belitung jaman itu seakan mampu tergambarkan secara visual di dunia imajinasi kita. Satire tentang jurang perbedaan si kaya dan si miskin, kesulitan untuk mendapatkan pendidikan, keinginan besar dari orang tua yang miskin agar anaknya tidak lagi hidup seperti dirinya sendiri, dan semangat polos anak kecil yang memiliki keingintahuan yang luar biasa akan dunia diluar sana.terdramatisir memang. Tapi sekali lagi, hal itu sama sekali tidak mengganggu ku sedikitpun.

Hirata bahkan benar-benar bisa membuatku terbawa dan hanyut, seakan aku ada dalam peristiwa-peristiwa yang ia ceritakan dibuku itu.

Buku ini membuatku terbawa untuk melakukan penelusuran tentang hidupku sendiri, masa kecil, remaja, sampai sekarang ini mendamparkan diri di ibu kota dan masih mengejar mimpi.

Cerita tentang masa kecilnya itu membawaku pada slide-slide masa kecilku sendiri. Bermain seluncuran pelepah mengingatkanku dengan mainan kalahar (mirip skate board dengan roda besi yang tersambung dengan kayu kecil yang dikontrol melalui kaki), meluncur di turunan aspal kebun binatang yang curam. Lucu, polos, khas dunia masa kecil kita. Aku tersenyum sendiri mengingat peristiwa itu

Cerita tentang lintang, yang meski menempuh puluhan kilo hanya untuk keinginannya sekolah, tidak pernah bolos, meski tak sama, mem-flash back masa kecilku, bersama ibunda tercinta, bangun jam 3 subuh, membuat pisang goreng dan bubur kacang ijo, berkeliling mengantarkannya ke beberapa sekolah sebelum aku sendiri berangkat kesekolah. Cerita lintang membuatku merinding dan menangis.

Ketika dia bercerita tentang Mahar, yang berfikir keras untuk merancang skenario besar untuk parade 17 agustusan yang membalik pandangan banyak orang terhadap sekolah mereka yang kumuh dan tanpa prestasi,dan kisah cerdas cermat yang membawa sekolah mereka menjadi diperhitungkan sekolah-sekolah penggede disana, membawaku pada episode yang sama, zaman-zaman olimpiade matematika dulu, lomba-lomba pramuka, PMR, dan berbagai aktifitas jaman SD, SMP dan SMA dulu demi mengangkat harga diri sekolahku yang sering dihajar sekolah swasta di kampungku. Rasa bangga itu tiba-tiba hadir.

Aku juga bisa bisa merasakan kisah cintanya dengan A ling. Khas remaja yang tengah jatuh cinta. Jika si ikal kenal A ling selama 5 tahun, mencinta, dan ditinggal, jadi ingat cinta pertama dulu, yang butuh 4 tahun hanya untuk menyatakan cinta. Ketika ikal ”mengakali” teman temannya untuk naik gunung, padahal dia hanya ingin mengambil bunga liar di puncak gunung belitung sana, ingatanku membawa hal yang sama ketika aku, daniel, andike dan hendra ke puncak gunung merapi, dan aku menghilang sebentar, hampir mati ketika memanjat tebing di puncak gunung merapi setinggi 7 meter, tanpa alat, demi sejuput adelweiss berwarna ungu yang sangat indah, untuk cinta pertamaku. Ahhh… cinta jaman sekolah itu benar-benar konyol dan indah.

Cerita ikal tentang keinginannya untuk menjadi pemain bulu tangkis atau penulis, atau apa saja asal bukan jadi tukang pos, namun ternyata dia malah menjadi tukang pos itu sendiri, pertikaiannya dengan Tuhan atas nasibnya, mengingatkanku pada kekurang-ajaranku pada Tuhanku, karena kuanggap sering mempermainkan nasibku. Mengingatkanku pada protes lama ku pada Tuhan, bahwa Tuhan selalu memenuhi keinginan-keinginanku, tapi tidak pernah mau memenuhi keinginan terbesarku

Lho, kok jadi curhat?

Buku ini juga membuatku menjadi kembali bersemangat dalam mengejar mimpi. Ya, buatku buku ini adalah tentang mimpi. Nothing is impossible if we want to. And God will be there to say ”yes” to our dreams.

Andai ada hal yang mengganggu ku paling banyak banyaknya istilah-istilah latin, dan beberapa kosa kata yang tak ku mengerti. Tapi anggap saja itu lebih karena keterbatasan pengetahuanku yang dari dulu memang males banget sama yang namanya istilah-istilah. Toh secara filosofis, aku mengerti tentang apa yang diceritakan. Dan setiap istilah aneh dijelaskan dalam glosary di halaman belakang.

Intinya, buku ini MUST BE READ.

Buku ini sangat baik untuk dibaca anak-anak yang mimpinya hampir musnah karena alasan-alasan klasik seperti kemiskinan. Juga bagi mereka-mereka yang beruntung mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang layak, namun sering menyia-nyiakannya.

Penting dibaca orang-orang yang tengah putus asa dalam meraih mimpi dan cita-cita. Bahwa cita-cita itu wajib untuk diraih, dan izinkan Tuhan menjalankan keajaibannya.

Buku ini wajib dibaca pejabat-pejabat dan pemimpin-pemimpin dibangsa ini, yang sudah mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia seperti yang dilakukan PT Timah di belitung, tapi tidak mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitarnya.

Terutama pejabat-pejabat yang diamanahi untuk mengurusi pendidikan bangsa ini, untuk lebih sensitive terhadap kondisi pendidikan di bangsa ini. Diknas seharusnya memberikan penghargaan dan apresiasi setinggi-tingginya untuk Ibu Muslimah, guru laskar pelangi di belitung, dan ibu muslimah lainnya di seluruh pelosok negeri ini, yang aku yakin masih ada ditengah bangsa yang semakin hedon ini.

Bagi aku sendiri…

Aku ingin sepintar Lintang, dan secerdas Mahar,

Aku ingin memiliki keinginan yang kuat seperti lintang yang rela bersepeda dengan sepeda bututnya 80 km dan melewati sarang guaya hanya untuk datang ke sekolah, dan Harun yang meski memiliki keterbelakangan mental Namur tetap bersekolah

Aku ingin seperti seperti Mahar dan Flo yang memiliki fantasi liar

Aku ingin memiliki keteguhan hati dan mimpi seperti Ikal

Aku ingin memiliki persahabatan seperti halnya laskar pelangi, seperti yang dilakukan A Kiong terhadap Samson

Aku ingin berkelana berkeliling dunia seperti Ikal dan Arai

Aku ingin memiliki keteguhan, ketulusan, dan kesederhanaan serta kemuliaan sebagaimana yang dimiliki Ibu Muslimah Hafsari dan Bapak Harfan Efendy Noor, yang membagi ilmu tanpa pamrih

Tapi aku tak ingin bernasib seperti lintang yang jadi supir truk, dan samson yang jadi tukang angkat barang, atau Trapani yang atas kecintaan yang luar biasa terhadap ibunya, berada di Rumah Sakit Jiwa